Pak Tani Miskin

Petani
Petani Laut

Pada suatu ketika hiduplah seorang petani miskin. Setiap pagi berangkat ke sawah untuk menggarap ladangnya yang kecil. Tak kenal lelah dia bekerja demi mendapatkan uang agar lekas kaya. Istrinya di rumah selalu setia menunggu sang suami pulang. Saat petani pergi ke ladang, sang istri memasakkan makanan untuknya.

Hari itu istri petani memasak gulai ayam bakar. Dia memasak dengan menggunakan kompor gas karena minyak tanah sudah susah di dapat. Merek kompor yang digunakan adalah Rinoi. Rinoi adalah kompor dengan teknologi pembakaran sempurna. Apinya biru dan melingkar, membuat masakan semakin cepat matang. Istri petani sangat sayang kepada kompor Rinoi, selain tentunya sayang kepada petani.

Pak Tani punya anak bernama Dayen. Dayen berusia dua puluh tahun dan baru lulus sekolah menengah atas. Dayen lulus dengan nilai pas-pasan, itu pun hasil menyontek saat ujian nasional. Bukan perbuatan yang pantas untuk dicontoh. Selepas lulus sekolah, Dayen bekerja di kantor pemerintahan sebagai tenaga honor. Walaupun hanya pekerja honor tanpa dengan gaji kecil, dia rajin bekerja.

Hari itu, Pak Tani dan keluarganya sedang makan malam. Tok..Tok.. Terdengar ketukan di benda segi empat penghubung dunia luar dengan rumah Pak Tani (baca: pintu). Pak Tani membuka pintu dan terlihatlah sesosok tinggi, berbadan besar, dan berjanggut putih. Pak Tani terkejut, namun buru-buru menahan keterkejutannya.

Lawang

“Maaf, cari siapa ya?”, Pak Tani bertanya.

“Selamat malam, Pak Tani yang budiman.”, pria asing itu menyapa.

“Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Suwiryo. Mungkin anda tidak kenal saya, tapi saya tahu banyak tentang anda..”

“Ada keperluan apa Pak Suwiryo?”, Petani bertanya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Ini Pak, saya ingin bertanya sesuatu. Dimana saya bisa mendapatkan batu akik seperti ini?”, pria asing itu menyodorkan gambar batu akik.

“Wah, kalo batu akik tidak ada di desa kami Pak. Coba Bapak cari ke Aceh, saya lihat di televisi di sana ditemukan berton-ton batu akik.”

“Oh, begitu, okelah Pak. Saya akan berangkat ke Aceh hari ini juga. Terima kasih,” pria asing menjabat tangan Petani. “Ini saya ada sedikit hadiah untuk bapak karena telah memberitahu saya,” dikeluarkannya segepok uang dari dalam tas dan menyodorkannya ke Petani. “Jangan ragu, ambil uang ini, Pak.”

Kaget, Petani hanya diam mematung, kemudian diulurkan tangan kurusnya. “Terima kasih, Pak. Tapi mengapa bapak memberikan uang kepada saya, padahal saya hanya memberitahu sesuatu yang sudah sering diberitakan di televisi?”

“Saya tidak punya televisi, Pak. Baru saya dengar berita itu hari ini dari Bapak, jadi saya merasa sangat berterima kasih.”

“Baiklah kalo begitu, saya terima uang ini. Semoga anda mendapatkan apa yang anda cari.” Petani menjabat tangan si pria asing. “Saran saya, belilah televisi agar Bapak tidak kekurangan informasi.”

Dengan hati gembira, pria asing berjenggot pergi dari rumah petani. Petani miskin memandangi pria asing itu dengan hati campur aduk, antara senang dan bingung. Uang pemberian si pria asing digunakannya untuk modal usaha. Petani membeli sawah dan alat bertani. Dengan giat dia mengerjakan sawah miliknya itu. Setahun kemudian, Petani sudah memiliki banyak uang dan hidup bahagia bersama keluarganya.

~FIN~

2 thoughts on “Pak Tani Miskin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.